Berita Kota Bukittinggi

TPID Bukittinggi Upayakan Inflasi Tetap Terkendali Pada Angka Rendah dan Stabil




Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Bukittingi terus berupaya dan melakukan berbagai cara untuk menjaga agar laju inflasi terkendali, hal ini terungkap dalam rapat koordinasi TPID yang dipimpin oleh Wakil Walikota Bukittinggi H.Irwandi di ruang rapat utama Balaikota, Selasa (13/3).

Rapat disamping dihadiri oleh Wakil Walikota Irwandi juga dihadiri oleh Sekretaris Daerah Yuen Karnova, Asisten II Ekbang Ismail dan perwakilan dari Bank Indonesia serta Anggota TPID Kota Bukittinggi.

Kabag. Perekonomian Setdako Bukittinggi Rismal Hadi memaparkan bahwa perkembangan harga berbagai komoditas pada bulan Februari 2018 menunjukkan penurunan harga terutama pada kelompok bahan makanan. Pada bulan Februari 2018 terjadi deflasi sebesar -0.22 persen. Sementara laju inflasi tahun kalender kota Bukittinggi sampai dengan Februari 2018 sebesar 0,52 persen dan untuk laju inflasi year on year (Februari 2018 terhadap Februari 2017) sebesar 2,13 persen.

“deflasi yang terjadi karena adanya penurunan indeks pada kelompok pengeluaran yang mempengaruhi yakni kelompok bahan makanan sebesar -1,25 persen. Walaupun keenam kelompok pengeluaran lainnya mengalami peningkatan indeks yaitu pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,14 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,07 persen, kelompok sandang sebesar 0,35 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,06 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,03 persen dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,18 persen”, jelasnya.

Penurunan pada kelompok bahan makanan dipicu oleh terjadinya fluktuasi harga bawang merah, daging ayam ras, Cabe merah, beras dan lain - lain.

Rismal juga menyampaikan bahwa fluktuasi harga komoditi makanan khususnya cabe salah satunya dipicu karena adanya kondisi gagal panen petani di daerah Bukittinggi dan sekitarnya, untuk itu juga disarankan agar tidak terjadinya lonjakan yang signifikan pada waktu mendatang khususnya menjelang bulan puasa dan hari raya idul fitri perlu mengantisipasinya dari sekarang.

Sementara itu Sekretais Daerah Yuen Karnova menyampaikan, bahwa guna mengantisipasi agar tidak terjadinya gejolak inflasi, kedepan perlu beberapa hal yang menjadi perhatian sebagai implementasi dan kebijakan operasional dilapangan.

“inflasi daerah umumnya dipengaruhi bahan makanan, katakanlah cabe. Saat ini harganya mulai anjlok sementara kita tidak boleh melarang masuknya cabe dari derah lain. Untuk itu dibutuhkan buffer stokc tetapi  persoalannya kita siapkan anggarannya tetapi tidak bisa kita cairkan percum saja karena tidak ada regulasinya. Kalau regulasinya tidak diperbaiki. Oleh karena itu diminta tim mengirim surat ke Provinsi berkenaan dengan regulasi tersebut”, ujarnya.

Sedangkan Wakil Walikota Bukittinggi Irwandi berharap dalam menjaga inflasi, TPID harus senantiasa memantau kebutuhan ekonomi mulai dari ketersediaan, keterjangkauan harga hingga kelancaran distribusi barang disamping itu juga perlu antisispasi kemungkinan terjadinya penyebab inflasi lainnya.

“Kita perlu menyusun langkah – langkah dalam memetakan jumlah ketersediaan dan kebutuhan pangan di Kota Bukittinggi, untuk itu kita butuh buffer stokc sebagaimana yang disampaikan dengan regulasi yang akan mengaturnya disamping itu diperlukan penyusunan road map pengendalian inflasi Kota Bukittinggi agar mempunyai tujuan yang jelas”, ungkapnya. (Ylm)

  • 21-12-2016

    Kegiatan Ulang Tahun Kota Bukittinggi yang ke-232

LINK DIREKTORI