Berita Kota Bukittinggi

312 Peserta Sekolah Keluarga Angkatan II Diwisuda




Pemerintah Kota Bukittinggi bersama TP PKK, mewisuda peserta sekolah keluarga angkatan ke II tahun 2019. Prosesi wisuda dilaksanakan di auditorium Pustaka Bung Hatta, Kamis (03/10).

Sekolah keluarga, merupakan salah satu program pemerintah kota Bukittinggi yang diinisiasi oleh Ketua TP PKK Bukittinggi, Ny. Yesi Endriani Ramlan. Program ini menjadi salah satu bukti bahwa adanya keseimbangan antara pembangunan fisik dengan pembangunan non fisik atau pembangunan manusianya.

Sekolah keluarga menjadi program unggulan dari pemerintah kota Bukittinggi. Bahkan sejak dimulai pada tahun 2018 lalu, inovasi pemko dan TP PKK Bukittinggi ini, mendapat perhatian secara nasional.

Hal ini didasarkan kepada tujuan utama Sekolah Keluarga dalam membangun ketahanan keluarga, mewujudkan generasi emas yang berkualitas, berkompeten dan berkarakter.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3APPKB) Bukittinggi, menjelaskan, tahun 2019, merupakan tahun kedua bagi pemerintah kota Bukittinggi dalam melaksanakan program sekolah keluarga.

Untuk tahun 2018 lalu, telah diwisuda sebanyak 84 orang yang telah menamatkan sekolah keluarga angkatan I tahun 2018. Peserta wisuda sekolah keluarga itu, terdiri dari tiga kelurahan, yaitu kelurahan Puhun Tembok, ATTS dan Aur Kuning.

“Sementara untuk angkatan II tahun 2019 ini, diwisuda sebanyak 312 orang dari 360 peserta. Pada angkatan kedua ini, sekolah keluarga dilaksanakan di 12 kelurahan dengan 16 kali pertemuan, termasuk 1 kuliah umum,” jelasnya.

Ketua TP PKK Bukittinggi, Ny. Yesi Endriani Ramlan, menjelaskan, Sekolah Keluarga muncul karena dilatarbelakangi mulai berkurangnya kualitas keluarga yang disebabkan tidak optimalnya peran dan 8 fungsi keluarga. Sekolah keluarga bertujuan menyelamatkan keluarga dari permasalahan keluarga sekaligus meningkatkan kapasitas orang tua dalam mengurus rumah tangga dan mendidik anaknya.

“Pendidikan harus dimulai dari keluarga dan orang tua sebagai pendidik utama. Oleh karena itu, peran aktif orang tua dalam pendidikan anak menjadi suatu keharusan. Pendidikan dalam keluarga didasarkan atas prinsip cinta dan kasih sayang. Keluarga menjadi lingkungan pendidikan pertama dan utama,” jelas Yesi.

Program ini merupakan bentuk pembangunan manusia bagi pemerintah kota. Program ini dibutuhkan untuk mengantisipasi warga dari masalah sosial, meningkatkan kapasitas dan kualitas orang tua dalam mendidik anak. Sekolah keluarga bertujuan untuk merealisasikan 8 fungsi keluarga, sehingga nantinya di sekolah keluarga, peserta diberikan materi terkait fungsi agama, fungsi sosial budaya, fungsi cinta dan kasih sayang, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi serta fungsi lingkungan.

“Pembangunan fisik, dalam beberapa bulan tentu akan terlihat hasilnya. Namun untuk membangun mental dan non fisik, membutuhkan waktu yang cukup lama, dan hasilnya pun tidak terlalu tampak secara fisik, tapi akan dirasakan di tengah masyarakat,” ungkap Yesi.

Ketua TP PKK mengungkapkan, pelaksanaan sekolah keluarga, kedepannya akan terus ditingkatkan. Ilmu yang didapat oleh para peserta, diharapkan dapat terus diaplikasikan dalam keluarga dan lingkungan serta dapat diteruskan kepada tetangga dan keluarga lainnya. Kedepan juga akan dikembangkan lagi dengan beberapa program seperti, Penyuluhan/parenting Pra Nikah, Itsbat Nikah dan nikah massal.

“Semoga dengan adanya sekolah keluarga, secara berangsur akan mengurangi dan menuntaskan permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat kota Bukittinggi. Kami juga berharap, untuk tahun 2020, pemerintah kota bersama DPRD dapat membantu penganggaran pelaksanaan sekolah keluarga angkatan III. Semoga bisa dilaksanakan langsung pada 24 kelurahan yang ada,” harapnya.

Sementara itu, Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, mengapresiasi secara khusus program sekolah keluarga, baik inisiator, pelaksana, narasumber dan para peserta sekolah keluarga. Dimana, keikutsertaan peserta pada sekolah keluarga ini, diharapkan dapat mewujudkan ketahanan keluarga.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada TP PKK dan juga DP3APP KB serta SKPD pendukung lainnya, serta seluruh narasumber yang telah mensukseskan program sekolah keluarga ini,” ungkap Wako.

Dari 312 peserta yang diwisuda pada angkatan ke II ini, dipilih satu lulusan terbaik di setiap kelurahannya.

“Mereka nanti yang akan menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk mensosialisasikan program sekolah keluarga dan mengembangkan ilmu yang diraih selama mengikuti sekolah keluarga,” ujar Ramlan.

Selanjutnya, sebagai bentuk dukungan terhadap program sekolah keluarga, pemerintah kota akan menganggarkan pelaksanaan sekolah keluarga angkatan ke III tahun 2020.

“Kami pemerintah kota sangat terbantu dengan adanya sekolah keluarga. Terutama dalam mengatasi permasalahan sosial dan mulai berkurangnya kualitas keluarga, disebabkan kurang optimalnya peran dan 8 fungsi keluarga,” ujar Wako.

Pemko berharap, setiap keluarga di kota Bukittinggi dapat menjalankan 8 fungsi keluarga. Sehingga tercipta keluarga yang harmonis, generasi yang berkualitas dan berkarakter, memiliki iman dan taqwa serta menunjung tinggi nilai adat budaya Minangkabau.

Kegiatan ini dihadiri Wakil Ketua DPRD Bukittinggi, unsur Forkopimda kota.Bukittinggi, Kadis PPPA Sumbar, Perwakilan BKKBN Sumbar, Kepala OPD di lingkungan Pemko Bukittinggi, Niniak Mamak, Bundo Kanduang dan sejumlah tamu undangan lainnya.

Pada wisuda angkatan ke II tahun 2019 ini, terpilih 12 peserta terbaik yang mendapat prediket sangat baik, satu per kelurahan. Idrawati dari ATTS, Rasnilah dari Pakan Kurai, Mulya Asnita dari Manggis Gantiang, Yeni Rahman dari Birugo, Febriyanti Novita Mara dari Puhun Tembok, Devita dari Puhun Pintu Kabun, Hayati dari Campago Ipuah, Elvira dari Pulai Anak Aia, Rina Yarsina dari Ladang Cakiah, Misnahifah dari Aur Kuning, Yatniwati dari Kayu Kubu dan Nofia Risye dari Tarok Dipo.

Febriyanti Novita Mara, salah satu lulusan terbaik dari kelurahan Puhun Tembok, mengaku bahwa sekolah keluarga memiliki banyak manfaat.

“Program ini memberikan ilmu yang bermanfaat yang dapat diterapkan dalam keluarga. Sehingga keluarga semakin rukun, beberapa persoalan yang timbul dalam keluarga, dapat diantisipasi. Bagaimana mendidik anak, berkomunikasi dengan seluruh anggota keluarga serta bagaimana menyelesaikan persoalan yang ada dalam keluarga,” tegasnya. (Ylm)

LINK DIREKTORI